Dibutuhkan lebih dari tiga hari untuk memadamkan api pada kebakaran pertama yang berlangsung di pertengahan Juli 2015. Perhutanan menduga penyebab kebakaran akibat pengunjung situs religi di lereng gunung yang lalai memadamkan api saat berkunjung.
"Terjadi dua kebakaran di titik yang sama. Kebakaran pertama berlangsung pada tanggal 11 hingga 13 Juli dengan luas sekitar 20 hektare, kebakaran ke dua berlangsung pada 2 Agustus dengan luas 5 hektare,” kata Wakil Administrator Perhutani Wilayah Malang Barat, Dadan Hamdan, Rabu 5 Agustus 2015.
Pada kebakaran pertama, Perhutani membutuhkan waktu hingga tiga hari untuk memadamkan api yang sangat luas, sementara pada kebakaran kedua pemadaman lebih cepat di atasi lantaran segera diketahui.
"Ada sekitar 20 petugas Perhutani yang memadamkan api menggunakan cara tradisional seperti gepyok dan sekat bakar," katanya.
Usai kebakaran kedua terjadi, Perhutani segera memasang papan berisi peringatan bagi pendaki lereng gunung tersebut. Isinya meminta pendaki tidak menyalakan api di lereng gunung.
Vegetasi yang 25 persen berupa alang-alang membuat bara api cepat membesar di musim kemarau. "Ada enam papan peringatan yang kami pasang sepanjang jalur pendakian karena kami menduga kebakaran dipicu akibat kelalaian pendaki,” ujarnya.
Menurutnya, pendaki lereng Gunung Kawi memiliki tipe berbeda. Mereka adalah pendaki yang bertujuan untuk berdoa di tempat-tempat tertentu di lereng Gunung Kawi.
Banyak pendaki percaya beberapa lokasi di lereng Gunung Kawi adalah tempat yang mujarab untuk memanjatkan doa, seperti di sekitar batu tulis dan Cemoro Kandang, lereng gunung Kawi yang dikenal dengan nama lokal Gunung Kekep.
Untuk menuju ke lokasi itu pun pendaki sering mengambil aneka rute berbeda mengingat tak ada pos resmi pendaftaran pendakian. Lokasi tersebut bisa ditempuh dengan berjalan kaki sekitar 5 jam dari pemukiman terdekat.
"Ada situs batu tulis dan dataran lapang yang disebut cemoro kandang. Di sana banyak peziarah melakukan ritual memanjatkan do’a pada hari-hari tertentu di akhir pekan," kata dia. (ren)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar